
Pekanbaru (11/03)-- Seorang tersangka penadah dan penyelundup harimau
tertangkap tangan di Sumatera Barat oleh tim dari BBKSDA Riau dan BKSDA
Sumatera Barat setelah dilakukan penyelidikan selama tiga hari dengan
dukungan dari
Tiger Protection Unit (TPU) WWF-Indonesia. Dari
penangkapan ini disita selembar kulit harimau jantan dewasa dengan
panjang 170 cm yang dipercaya hasil buruan dengan diracun dari atau
dekat Suaka Margasatwa Rimbang Baling, Kabupaten Kampar di Provinsi
Riau. Pada tanggal 28 Februari 2011, TPU menerima laporan bahwa seekor
harimau telah diracun di dekat Cagar Alam Rimbang Baling. TPU bersama
BKSDA Riau kemudian melakukan pengintaian di kawasan tersebut selama dua
hari.
“Tujuan kami tidak hanya mendukung pemerintah untuk menangkap pemburu
lokal, tetapi kami juga ingin membantu melacak perdagangan harimau ke
pelaku yang lebih tinggi dalam jaringan perdagangan ilegal ini,” ujar
Chairul Saleh, Koordinator Konservasi WWF-Indonesia. “Kami ingin
membantu pemerintah memutuskan mata rantai penyelundupan harimau yang
turut membinasakan populasi harimau Sumatera ini oleh karena itu
jaringan yang lebih tinggi harus dicari”.
Kurir yang diduga membawa selembar kulit harimau dan
tulang-tulang harimau ini dibuntuti oleh tim BBKSDA dari Riau menuju
perbatasan Sumatera Barat. Di Balung- Pangkalan (perbatasan
Riau-Sumatera Barat) tersangka penadah harimau berinisial FN menjemput
kulit harimau tersebut. BKSDA Sumatera Barat dikontak untuk membantu
operasi ini. Tersangka penadah ini kemudian dibekuk di rumahnya di
Payakumbuh setelah tim mengikutinya dari Balung. Awalnya, tersangka
menyangkal menyimpan kulit harimau namun salah satu anggota
Tiger Protection Unit (unit
anti perburuan dan perdagangan harimau kerjasama WWF-BBKSDA Riau)
mendeteksi bau bahan kimia yang sering digunakan untuk mengawetkan kulit
harimau dan berhasil menemukan lokasi penyimpanan kulit. Namun tulang
harimau, yang biasanya bernilai tinggi di pasar gelap biasanya
digunakan untuk pengobatan tradisional, tidak ditemukan.
Saat ini tersangka ditahan di Kantor Kepolisian Resor Payakumbuh ,
Sumatera Barat. Sebuah mobil minivan yang digunakan tersangka disita
sebagai barang bukti. Sementara itu, beberapa satwa lain juga ditemukan
di rumahtersangka termasuk seekor ular phyton hidup dan bagian-bagian
tubuh
serrow (kambing gunung) dan muncak.
Kurnia Rauf , Kepala BBKSDA Riau mengatakan,”Kami memperkirakan
tersangka ini memiliki jaringan luas di dunia perdagangan satwa liar di
Sumatera oleh karena itu kami berharap penegakan hukum terhadap kasus
ini dapat berjalan cepat”.
Kurnia juga menambahkan,”Kami siap membantu memberikan data pendukung
untuk penegakan hukum kasus ini dan berharap pelaku mendapatkan sangsi
hukum maksimal untuk memberikan efek jera kepada pelaku kejahatan
perdangan satwa liar lainnya”.
“Tim BKSDA di Riau dan Sumatera Barat patut mendapatkan
apresiasi atas keberhasilannya menjalankan operasi yang berhasil
menangkap tersangka tanpa melibatkan kekerasan pada tanggal 3 Maret
lalu,” ujar Suhandri Program Manager WWF-Indonesia Program Riau. “WWF
sangat mendesak penegak hukum di Sumatera Barat untuk menyikapi kasus
ini secara serius dan menjatuhkan hukuman yang maksimal kepada pelaku.
Harimau Sumatera sangat terancam punah dan perburuan merupakan salah
satu ancaman tertinggi bagi satwa tersebut.”
Pemerintah Indonesia, bersama dengan 12 negara yang masih mempunyai
harimau di alam, berkomitmen di St. Petersburg Russia bulan November
2010 lalu untuk meningkatkan jumlah harimau Sumatera dua kali lipat
dalam 12 tahun mendatang. Menurut Kurnia Rauf, sebagai tindak lanjut
dari komitmen bersama tersebut, Dirjen PHKA-Kementerian Kehutanan
berkomitmen mengurangi ancaman terhadap populasi harimau Sumatera
melalui penegakan hukum untuk menghentikan perburuan dan perdagangan
harimau Sumatera. Selain itu Kementerian Kehutanan juga melakukan
pembinaan populasi di habitat alaminya bekerjasama dengan mitra dalam
rangka meningkatkan populasi harimau Sumatera 3% per tahun untuk
mendukung Rencana Strategis Konservasi Harimau Sumatera 2007-2017.
at http://www.harimausumatra.com/2011/03/tersangka-penadah-dan-penyelundup.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar